Cay Indra and his fresh thoughts.

Thursday, October 02, 2003

Oh Wakil Rakyat...

Kemaren malem pas mau tidur, gue tau-tau dapet kabar dari KBRI, kalo besok pagi ada anggota Komisi 1 DPR mau dateng dan ketemu sama wakil mahasiswa. Sempet agak panik, soalnya pagi ini sebenernya gue ada acara. Tapi karena memenuhi rasa penasaran, datenglah gue.

Dan ini yang terjadi:

1. Sekitar sepuluh orang yang diundang dialog udah dateng semua on-time di Ruang Rapat KBRI, tapi sang wakil rakyat belom setengahnya ada di sana. Kata salah seorang dari mereka, sisanya, termasuk Pak Ketua, sedang ngrokok di luar, jadi yang lainnya nurut aja ikutan duduk-duduk di luar.

2. Sembari menunggu, satu orang anggota Dewan kayaknya udah gelisah. Terus dia nanya sama kita sang undangan "Eh, di sini kalo mau beli buku di mana ya? Saya butuh buku nih." Terus setelah kasak-kusuk sana sini, dia usul kalo pertemuannya diundur abis jam makan siang aja, soalnya kalo pertemuannya diadain sekarang, nanti dia nggak punya waktu buat jalan-jalan ...

3. Akhirnya setelah molor 1/2 jam, acara mulai juga. Pertama ya kayak rapat biasa aja, dan emang ada satu orang anggota Dewan yang sejak awal keliatan kelaperan, dia kerjanya ngunyah-ngunyah makanan sajian mulu, dan menimbulkan bunyi-bunyian yang nggak perlu. Tahap pertama adalah perkenalan, dan mereka diperkenalkan sama ketua rombongan mereka. Terlihat oke juga, ada di dalam rombongan seorang dosen dan seorang profesor.

4. Setelah dialog mulai dan dengar pendapat dari kami, sang profesor tertidur. Mending tidurnya apik, ini dia ndlosor di kursinya (yang emang super empuk), dan mulut nganga agak terbuka. Padahal pas itu ada seorang diplomat Indonesia di KBRI lagi presentasi sesuatu. Untung dia tidurnya bukan pas gue ngomong, kalo iya, pasti gue dah gemes pengen lempar kapur (gaya guru SD)...

5. Setelah selesai kami menyampain semua masukan, giliran mereka yang ngasih respon balik. Dan luar biasa, respon mereka sungguh di luar dugaan, bahwa orang DPR bisa ngasih jawaban non-sense kayak gitu. Secara keseluruhan, tanggapan mereka itu bener-bener sama sekali nggak menjawab titik permasalahan, dan nggak ada solusinya. Sebagai gantinya, mereka justru seperti menuding pihak-pihak lain yang dianggap belom tepat, makanya masalah kayak ini terjadi. Padahal kalo mau lebih obyektif, kebanyakan akar permasalahan yang kami ajukan sejak awal adalah juga akibat perbuatan (atau ketidakberbuatan) Bapak-bapak yang bijak ini.

6. Akhirnya setelah percakapan yang (rasanya) buang-buang waktu ini selesai, dan setelah salaman basa-basi, orang-orang yang tadi juga speak up kecewa banget dengan respon orang-orang itu yang ancur gini. Lebih sedih lagi ketika kita tau bahwa di tangan orang-orang kayak gini, kita menggantungkan nasib bangsa. Huaaa....

Yah, gue bukannya nggak tau kalo Wakil Rakyat itu nggak semuanya berkualitas, dan ada juga yang cuma numpang duduk tapi ikutan nikmati fasilitas yang mahal itu. Tapi kok setelah liat dan ngomong sendiri, rasanya pait ya... Apa gue yang terlalu idealis? :(


PS: Foto bukan diambil dari kejadian hari ini, namun gambar dari Sidang Istimewa MPR 98, yang kayaknya masih cukup relevan buat menggambarkan mutu mereka sampe sekarang...